Dilautan hikmah kalamMU lirih hatiku bergetar mengeja alif-lam-mimMU ditelaga bijak IqroMU angin malas bergerak malam-malam serasa berhenti diluas langit malamMU lukisan bulan melengkung sabit goresan bintang mengerjap mengalunkan meldi harmoni diantara kerlip cahaya tangan kecil ini menengadah hanya padaMU disetiap menit yang berlalu
Mengenai Saya
- Arie Aziz
- Berusaha untuk dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
Jumat, 12 Maret 2010
halaman persembahan dalam skripsi.....
salah satu yang aku ingat saat membuat halaman persembahan...waktu itu harus menyendiri...hehehe...bukan menyepi lo ya....biar dapat inspirasi... kata katanya adalah sebagai berikut :
skripsi ini aku persembahkan untuk :
1. pelita kehidupanku, yang tak pernah padam di terjang badai dan tak pernah kering di telan masa yang selalu memberikan curahan embun kesejukan di saat aku kehausan dipadang sahara kegundahan dan yang selalu memberikan tangga - tangga motifasi untuk meraih cita- cita memetik bintang, Ibu, Ayah,Kakek dan Nenek tercinta.
2. Tongat petunjukku yang selalu memberikan dan menunjukkan jalan yang lurus dan terang di saat aku masuk di dalam dilema jurang kenistaan dan kebodohan, bapak dan ibu guruku.
3. permata hatiku, yang selalu menghiasi kehidupanku, memberi semangat dan dorongan demi meraih cita dan cinta, yang menghiburku di saat duka dan terharu di saat suka, kakak dan adik - adikku.
3. jantung hatiku, yang setiap saat memberikan nafas kehidupan, setiap detik memberikan detak - detak harapan, setiap nafas memberikan cinta dan setiap kedipan mata memberikan kedamaian, tempat berlabuhya curahan tiap kerinduan, calon ibu dari anak- anakku.
hehehe....itulah sedikit untuk mengenang sebuah perjalanan hidup mungkin hanya sekali dalam hidup ( pengennya sih berkali kali dalam buat skripsi dan tesis bahkan sampai desertasi...Amin..)
Perjalanku dan Pondok pesantren Al Muhammad cepu
Tahun 1998 awal aku injakkan kaki di Al Muhammad Cepu. Sebuah lembaga pendidikan Pesantren yang cukup eksis di
Pesantren yang dirintis dari awal oleh KH.Drs. M. Rifa’i Idris asli putra daerah Cepu dengan Hj. Ni’matul Izzah BA dari Pasuruan. Beliau adalah pioneer perjuangan Islam yang tangguh dan tak mengenal lelah dalam memperjuangkan agama islam dengan wujud nyata berupa lembaga pendidikan Islam ponpes Al Muhammad Cepu.
Meski pada saat itu semua serba prihatin dalam fasilitasnya, bayangkan aja, waktu masjid belum dibangun, setiap jum’at dalam melaksanakan sholat jum’at harus jalan kaki sejauh 2 kilometer yaitu ke masjid Jami Cepu, sebuah perjuangan yang lumayan melelahkan. Waktu sholat
Pada waktu aku di Pondok termasuk santri yang “ikut dalem”, sebuah istilah santri yang makan dan biaya pondok di gratiskan oleh Pak Kyai dengan ikut membantu kerja, ada yang ikut membangun atau istilahnya bagian bangunan, pada waktu itu Pondok lagi gencar – gencarnya membangun masjid, gedung STAI , kantin dan asrama serta rumah Pak Kyai yang pada waktu itu sangat sederhana sekali, karena focus pada pembangunan Asrama.
Kesederhanaan dan kikhlasan sepasang suami istri ini adalah salah satu penopang dari kemajuan Pon Pes ini. Dengan sifat yang penuh dengan jiwa pendidik dan kerja kerasnya KH. Rifa’i Idris dan Hj.Ni’matul Izzah, BA setelah beberapa tahun telah menampakkan hasil yang sangat memuaskan. Pesantren yang di dalamnya ada lembaga pendidikan berupa MTs dan SMP, MA dan SMA serta STAI Al Muhammad Cepu ini secara otomatis membantu mencerdaskan kehidupan bangsa dengan di dasari nilai-nilai islam.
Meski Beliau belum merasakan secara utuh perjuangan yang beliau rintis dari awal karena beliau berdua telah di panggil oleh Allah SWT. Allah lebih menyayangi beliau dan perjuangannya tidak pernah berakhir dengan hadirnya penerus perjuangan penegakan agama islam di
Setelah sepeninggal Ibu ni’matul Izzah, KH. Rifa’i Idris menikah dengan ibu nyai Nur Latifah MA, secara kebetulan dan sesuai rencana Allah, Ibu Nur Latifah adalah kawan dari Ibu Ni’matul Izzah. Gairah pesantren pun kembali bersinar dengan hadirnya sosok yang penuh keibuan dan penuh keiklasan dalam mendidik kami. Beliau adalah khafidhoh 30 Juz. Dengan ilmu beliau memberikan warna tersendiri bagi pesantren ini. Pesantren semakin maju dengan banyaknya santri. Santri yang notabene berasal dari luar
Namun beberapa tahun kemudian keluarga besar Al Muhammad kembali berduka dengan kembalinya Al Ustad KH. Rifa’i idris kehadapan Allah SWT.Air mata duka dan kehilangan membanjiri bumi Cepu. Putra terbaik telah lebih dulu menghadap Allah dengan penuh ketenangan. Bapak kami, kyai kami, pembimbing kami, guru kami, orang tua kami telah meninggalkan kami.Otomatis kegiatan belajar kami berhenti sejenak dengan mendoakan dan mengantarkan beliau. Selamat jalan ustad kami….Doa kami selalu mengiringi kepergianmu…….
Pada waktu kami lulusan SMA tahun 2001, keadaan AMC semakin maju, masjid berdiri tegak, asrama bagus dan semua berkeramik, air melimpah, fasilitas memadai. Pesan bagi generasi selanjutnya untuk tetap istiqomah dan “tiada kebahagiaan tanpa penderitaan” tetap semangatlah seperti Al Ustad KH.Rifa’I Idris dan Ibu Nyai Ni’matul Izzah BA.
Pacaran?
Adikku, masih berusia cukup belia 14 tahun kelas tiga es em pe. Teman se-ganknya adalah ABG gaul dan hampir semua temannya punya pacar, ya hal ini memang sudah sangat biasa di masyarakat kita, anak kelas tiga es em pe pacaran. Tapi, dia tetap bertahan dengan prinsipnya untuk tidak pacaran di antara teman se-ganknya yang melegalisasi pacaran, padahal dari sisi tarbiyah keIslaman dia sangat terbatas. Kuliahku di luar kota membuatku jarang sekali berdiskusi dengannya, hanya sesekali saja ketika aku mudik dan itupun tidak lama karena saat mudik pun banyak aktivitas di luar rumah yang harus kukerjakan. Sedangkan kondisi orangtuaku masih jauh dari bi'ah keIslaman. Jauh di hatiku aku salut dan malu padanya.
Aku jadi teringat dengan ikhwah di kampus yang mulai luntur hanya karena seseorang yang menjadi pujaan hatinya yang akhirnya membuatnya gugur di jalan dakwah. Ya, gugur tapi bukan syahid, gugur karena tereliminasi dari medan dakwah karena godaan syahwat. Virus merah jambu, adalah salah satu alasan klasik yang membuat para aktivis dakwah "drop out" dari kampus dakwah. Padahal lingkungan kampus yang kondusif dengan bi'ah keIslamannya, banyaknya ikhwah adalah sarana yang cukup efektif untuk menjaga keistiqomahan, di samping taujih mingguan di lingkaran kecil.
Virus merah jambu, sarana efektif musuh utama dakwah (syaitan) untuk menjegal para mujahid dan mujahiddah. Virus ini tidak hanya menyerang aktivis dakwah baru tapi juga aktivis dakwah dengan jam terbang yang sudah tinggi. Bermula dari koordinasi, saling tausiyah akhirnya pindah ke curhat pribadi dan lama-lama timbul simpati. Menjaga diri dan hati dari pintu-pintu masuknya syaitan adalah sangat penting bagi seorang aktivis dakwah agar ia tidak tergelincir atau pada terjebak pada jurang nasf.
Ibn Qoyyim Al-Jauzy dalam kitab Ad Da' Wa Ad Dawa' mengatakan ada empat pintu maksiat yaitu: pandangan, tutur kata, lintasan hati dan langkah kaki. Jagalah keempatnya, niscaya kita dapat selamat.
Belajar dari adik kecilku, aku merasa malu dan prihatin.Mengapa di antara para penggerak dakwah masih banyak dan seringkali terjadi cinta lokasi alias cinta bersemi sesama aktivis dan berujung komitmen satu sama lain. Ya, apa bedanya dengan pacaran. Apakah tidak malu dengan seorang anak es em pe yang tetap keukeu menjaga prinsip untuk tidak bacaran before married.